Latest News

Tampilkan postingan dengan label Pria. Tampilkan semua postingan

http://bloggerinformative.blogspot.com/2013/10/dampak-dan-efek-onani-serta-cara.html

Sepertinya masih ada banyak orang yang ternyata belum mengerti segala sesuatu tentang dampak, efek atau akibat onani atau masturbasi. Walaupun begitu, banyak orang yang melakukannya. Sehingga banyak juga informasi yang salah berkembang di masyarakat dalam memandang masturbasi atau onani, antara lain seperti yang ditanyakan di bawah ini.

Kasus 1:
“Saya adalah pemuda yang masih 19 tahun, belum menikah, tetapi saya bekerja mulai umur 14 tahun. Saya sangat sering masturbasi atau onani, dan itu sampai sekarang. Bahkan hal itu sering, pernah hampir 1 hari saya onani dan masturbasi 2 kali. Kebiasaan ini tidak dapat saya cegah. Setiap penis ereksi, saya akan bermasturbasi, biasanya waktu bangun tidur. Jika sudah, saya akan merasa puas. Pertanyaan saya adalah: Apakah onani yang sangat sering membuat mani encer? Apa efek atau dampak onani memakai sabun? Apa ada efeknya juga setelah keluar sperma tidak dicuci? Apa onani juga mengganggu pekerjaan sebab saya adalah pekerja berat? Saya takut, kalau ternyata dapat mengakibatkan lemah syahwat.” (R.W., Jakarta)

Kasus 2:
“Saya Rizal, saya adalah laki-laki 23 tahun, tinggi saya 165 cm dan berat badan 57 kg. saya mahasiswa pasca sarjana di perguruan tinggi Bandung, saya belum menikah. Saya sangat punya banyak masalah dalam kehidupan seks, mulai umur 20 tahun saya sangat sering onani sendiri sebab saya tidak sanggup untuk melawan nafsu seks saya. Saya selalu melakukannya sebanyak seminggu satu kali bahkan pernah saya seminggu sampai 3 kali. Tetapi ternyata gairah seks saya sangat tinggi. Perlu juga dokter untuk ketahui kalau sekarang hampir saya setiap hari masturbasi atau onani, bahkan dalam satu hari sampai 2 kali, kadang juga berhenti dalam sehari apabila saya tengah kelelahan tetapi hasrat seks untuk onani tetap ada, saya sudah berkali-kali berusaha menahannya, bahkan dengan berbagai banyak cara termasuk melakukan olahraga, setelah olahraga ternyata gairah seks itu tetap muncul. Saya tanyakan yaitu: Apakah kalau saya sangat sering onani akan berakibat buruk bagi kesehatan? Apa sering onani akan berakibat mandul? Bagaimana cara saya mengatasinya?” (R, Bandung).

Jawaban:

Banyak Mitos
Pada banyak hasil data penelitian yang telah dilakukan, ternyata memang pada umumnya semua pria dan bahkan sekitar 70-80 persen wanita pernah masturbasi. Buruknya banyak juga informasi yang salah berkembangan tentang masturbasi, misalnya saja bisa mengakibatkan berbagai hal buruk. Sepertinya ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi masyarakat, mitos tentang seks ini semakin banyak dan terus saja berkembangan sampai saaat ini.

Pada abad 18 telah terbit sebuah buku berjudul Onana yang dibuat oleh Tissot dari Prancis. Buku ini mengupas penyakit yang dapat muncul akibat melakukan onani atau masturbasi. Ternyata dengan semakin berkembangannya ilmu pengetahuan dan teknologi, telah terbukti bahwa apa yang ditulis dan diterbitkan oleh Tissot adalah salah besar.

Bahwa sangat tidak benar bahwa melakukan onani atau masturbasi dapat mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan, termasuk kualitas sperma. Sehingga, tidak ada suatu bentuk gangguan pada kuantitas dan kualitas sperma karena masturbasi. Walaupun, onani atau masturbasi yang jika dilakukan dengan terburu-buru mencapai ejakulasi dapat dikhawatirkan menjadi pemicu terjadinya ejakulasi dini pada pria. Sementara itu, apabila Anda melakukannya terlalu sering, tentu akan berakibat pada kelelahan karena onani atau masturbasi. Hubungan intim dan onani sama-sama memerlukan energi.

Keseimbangan
Onani yang menggunakan sabun tidak akan menimbulkan dampak apa-apa asal sabun tersebut tidak ada zat yang memiliki sifat menimbulkan suatu rangsangan pada lapisan dalam kulit anda. Bahkan zat ini bila terlalu kuat akan membuat lapisan dalam kulit terlihat semacam luka lecet.

Apabila saya melihat jumlah aktivitas onani anda sangat sering, mungkin anda sangat kurang untuk melakukan suatu aktivitas yang seimbang antara aktivitas fisik dan mental. Pada kebanyakan kasus, apabila kita cukup untuk melakukan aktivitas fisik dan mental, dorongan seksual Anda akan tertekan. Sehingga, Anda gairah seks anda tidak akan terlalu banyak muncul dan terangsang, akibatnya anda dapat mencegah dan menahan diri untuk tidak sering onani.

Bisa juga pekerjaan Anda sekarang memang cukup berat dalam hal fisik. Walaupun begitu, kalau ternyata tidak diimbangi oleh kegiatan yang bersifat mental, anda akan tetap sering akan merasakan rangsangan dan dorongan seks yang sangat menggebu-gebu di dalam diri anda. Kesimpulannya, anda harus menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan mental.( Sumber : Forum.VIVAnews )


Cara Berhenti Dari Kebiasaan Onani

Apa itu Onani?

Terminologi onani atau masturbasi dapat diartikan sebagai aktivitas menyentuh, meraba, memainkan, merangsang bagian tubuh (misalnya: alat kelamin) dengan tujuan untuk memuaskan hasrat seksual dirinya sendiri (autoerotism). Adapun istilah masturbasi biasa digunakan untuk mengartikan onani yang biasa dilakukan oleh kaum wanita. Istilah lain untuk onani adalah “swalayan”, melancap (bahasa Malaysia), istimna (bahasa Arab).

Bagaimana Onani itu Bermula?

Konon menurut Alkitab, tepatnya dalam Kejadian 38:6-10, hikayat, riwayat, kisah, atau sejarah Onani berasal dari seseorang bernama Onan yang sedang gelisah. Ia disuruh ayahnya, Yehuda, untuk menikahi janda almarhum kakaknya. Onan merasa keberatan karena ia yakin bahwa anak yang lahir akan dianggap sebagai keturunan kakaknya. Maka, Onan kemudian memutuskan untuk menumpahkan spermanya di luar tubuh janda tersebut setiap kali mereka berhubungan seksual, bukan di dalam ******. Dengan cara itu, janda kakaknya tidak akan hamil. Namun, cara itu harus berakhir tragis karena ternyata membuat Tuhan murka dan Onan mati.

Berapa kali “idealnya” beronani dalam seminggu?

Tidak ada “harga normal” atau pedoman untuk onani, namun ada yang menyebutkan biasanya onani dilakukan 3-5 kali dalam seminggu, pendapat ini kurang kami setujui karena memang tidak didukung referensi yang kuat dan valid. Disarankan untuk sama sekali TIDAK beronani dalam seminggu, mengingat hampir tidak ada manfaat onani, kecuali pemuasan hasrat seksual semata.

Bagaimana Cara Menghentikan Kebiasaan Onani?

Kami memiliki beberapa tips efektif untuk menghentikan kebiasaan onani, seperti:

1. Awali dengan berdoa, memohon dan bertaubat kepada Allah, untuk berhenti dari onani selamanya.

2. Harus memiliki tekad, kemauan, dan motivasi yang kuat dari diri sendiri.

3. Terapkan sistem “reward and punishment” yang tegas dan disiplin untuk diri sendiri. Misalnya: jika satu hari saya tidak beronani, maka saya akan “menghadiahi diri sendiri” dengan membeli es krim yang lezat atau berjalan-jalan ke pantai. Jika saya beronani satu kali saja, saya harus “menghukum diri sendiri” dengan membaca satu buku tentnag ilmu pengetahuan.

4. Katakan TIDAK pada ONANI dan SEX sebelum MENIKAH!!!

5. Hendaknya tidak sering menyendiri, melamun, atau menonton film yang “membangkitkan gairah”.

6. Bergaullah dengan orang-orang yang alim, cerdas, sholeh, beriman, bertakwa. Hindarilah lingkungan pergaulan yang membawa Anda menuju “lembah maksiat” atau “dunia hitam”.

7. Perbanyaklah beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan Anda. Jika Anda beragama Islam, maka seringlah berpuasa sunah, sholat berjamaah, sholat malam, berzikir, membaca Alquran, dsb.

8. Jika Anda “hobi beronani”, berhati-hatilah atau waspadalah dengan kanker prostat! Sebab, hasil riset yang dilakukan oleh Universitas Nottingham Inggris, menyatakan bahwa pria berusia antara 20-30 tahun yang “gemar beronani” memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena kanker prostat. Juga, Sebanyak 34% atau 146 dari 431 orang yang terkena kanker prostat sering melakukan onani mulai usia 20 tahun. Sekadar tambahan, kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di kelenjar prostat, disebabkan karena sel prostat bermutasi dan mulai berkembang di luar kendali.

9. Sibukkanlah diri Anda dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, misalnya: berolahraga, pecinta alam, membaca buku, menulis, bernyanyi, memasak, berkebun, dsb.

10. Ingatlah bahwa hukum onani adalah haram, dan onani itu merupakan “zina tangan”.

11. Hindari bergaul dengan teman atau sahabat yang juga “hobi beronani”. Sebab seseorang itu dapat dinilai; salah satunya dengan siapa (saja) ia bergaul.

12. Mandilah secepat mungkin. Hindari untuk berlama-lama di kamar mandi.

13. Hindari melihat tontonan, tayangan, gambar, video, yang “syur”, “aduhai”, atau porno, baik di internet, televisi, VCD, DVD, dsb. Hindari juga “bacaan dewasa”, “kisah panas”, atau “bumbu-bumbu seksual”, kecuali Anda sudah menikah dan akan melakukan hubungan seks.

14. Perbanyak aktivitas fisik, terutama jika sedang stres atau diri Anda sedang dalam keadaan tertekan.

15. Lakukan semua hal, aktivitas, atau kegiatan yang Anda sukai, sepanjang tidak melanggar aturan agama dan norma.

16. Temukan, kembangkan, dan salurkan semua bakat, hobi, dan kreativitas Anda semaksimal mungkin.

17. Sadarilah bahwa onani hanya akan menghabiskan energi dan waktu Anda yang sebenarnya dapat Anda gunakan untuk melakukan hal-hal lainnya yang bermanfaat.


Oh iya, ada satu hal lagi yang perlu ketahui… . kami belum menemukan referensi yang mengatakan bahwa kebanyakan onani itu menghambat pertumbuhan. Yang mungkin terjadi adalah, energi yang seharusnya untuk tumbuh kembang tubuhmu kahirnya habis sia-sia hanya untuk beronani. Jelas bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi beronani dengan tingkat petumbuhan. ( Sumber: Forum.VIVAnews)

http://bloggerinformative.blogspot.com/2013/10/asal-mula-penyakit-aids.html

Virus HIV AIDS sebenarnya bukan berasal dari simpanse, tetapi ciptaan para ilmuwan yang kemudian diselewengkan melalui rekayasa tertentu untuk memusnahkan etnis tertentu. (Jerry D. Gray, Dosa-dosa Media Amerika - Mengungkap Fakta Tersembunyi Kejahatan Media Barat, Ufuk Press 2006 h. 192).

Tulisan Allan Cantwell, Jr. M.D. ini mengungkapakan rahasia asal-usul AIDS dan HIV, juga bagaimana ilmuwan menghasilkan penyakit yang paling menakutkan kemudian menutup-nutupinya.

Teori” Monyet Hijau

1.Tidak sedikit orang yang sudah mendengar teori bahwa AIDS adalah ciptaan manusia. Menurut The New York Times yang terbit 29 Oktober 1990, tiga puluh persen penduduk kulit hitam di New York City benar-benar percaya bahwa AIDS adalah “senjata etnis” yang didesain di dalam laboratorium untuk menginfeksi dan membunuh kalangan kulit hitam. Sebagian orang bahkan menganggap teori konspirasi AIDS lebih bisa dipercaya dibandingkan teori monyet hijau Afrika yang dilontarkan para pakar AIDS. Sebenarnya sejak tahun 1988 para peneliti telah membuktikan bahwa teori monyet hijau tidaklah benar. Namun kebanyakan edukator AIDS terus menyampaikan teori ini kepada publik hingga sekarang. Dalam liputan-liputan media tahun 1999, teori monyet hijau telah digantikan dengan teori simpanse di luar Afrika. Simpanse yang dikatakan merupakan asal-usul penyakit AIDS ini telah diterima sepenuhnya oleh komunitas ilmiah.

2. “Pohon keturunan” filogenetik virus primata (yang hanya dipahami segelintir orang saja) ditampilkan untuk membuktikan bahwa HIV diturunkan dari virus primata yang berdiam di semak Afrika. Analisis data genetika virus ditunjukkan melalui “supercomputer” di Los Alamos, Mexico, menunjukkan bahwa HIV telah “melompati spesies’, dari simpanse ke manusia sekitar tahun 1930 di Afrika.

Eksperimen Hepatitis B Pra-AIDS kepada Pria Gay (1978-1981)

Ribuan pria gay mendaftar sebagai manusia percobaan untuk eksperimen vaksin hepatitis B yang “disponsori pemerintah AS” di New York, Los Angeles, dan San Fransisco. Setelah beberapa tahun, kota-kota tersebut menjadi pusat sindrom defisiensi kekebalan terkait gay, yang belakangan dikenal dengan AIDS. Di awal 1970-an, vaksin hepatitis B dikembangkan di dalam tubuh simpanse. Sekarang hewan ini dipercaya sebagai asal-usul berevolusinya HIV. Banyak orang masih merasa takut mendapat vaksin hepatitis B lantaran asalnya yang terkait dengan pria gay dan AIDS. Para dokter senior masih bisa ingat bahwa eksperimen vaksin hepatitis awalnya dibuat dari kumpulan serum darah para homoseksual yang terinfeksi hepatitis.

Kemungkinan besar HIV “masuk” ke dalam tubuh pria gay selama uji coba vaksin ini. Ketika itu, ribuan homoseksual diinjeksi di New York pada awal 1978 dan di kota-kota pesisir barat sekitar tahun 1980-1981.

Apakah jenis virus yang terkontaminasi dalam program vaksin ini yang menyebabkan AIDS? Bagaimana dengan program WHO di Afrika? Bukti kuat menunjukkan bahwa AIDS berkembang tak lama setelah program vaksin ini. AIDS merebak pertama kali di kalangan gay New York City pada tahun 1979, beberapa bulan setelah eksperimen dimulai di Manhattan. Ada fakta yang cukup mengejutkan dan secara statistik sangat signifikan, bahwa 20% pria gay yang menjadi sukarelawan eksperimen hepatitis B di New York diketahui mengidap HIV positif pada tahun 1980 (setahun sebelum AIDS menjadi penyakit “resmi’). Ini menunjukkan bahwa pria Manhattan memiliki kejadian HIV tertinggi dibandingkan tempat lainnya di dunia, termasuk Afrika, yang dianggap sebagai tempat kelahiran HIV dan AIDS. Fakta lain yang juga menghebohkan adalah bahwa kasus AIDS di Afrika yang dapat dibuktikan baru muncul setelah tahun 1982. Sejumlah peneliti yakin bahwa eksperimen vaksin inilah yang berfungsi sebagai saluran tempat “berjangkitnya” HIV ke populasi gay di Amerika. Namun hingga sekarang para ilmuwan AIDS mengecilkan koneksi apapun antara AIDS dengan vaksin tersebut.

Umum diketahui bahwa di Afrika, AIDS berjangkit pada orang heteroseksual, sementara di Amerika Serikat AIDS hanya berjangkit pada kalangan pria gay. Meskipun pada awalnya diberitahukan kepada publik bahwa “tak seorang pun kebal AIDS”, faktanya hingga sekarang ini (20 tahun setelah kasus pertama AIDS), 80% kasus AIDS baru di Amerika Serikat berjangkit pada pria gay, pecandu narkotika, dan pasangan seksual mereka. Mengapa demikian? Tentunya HIV tidak mendiskriminasi preferensi seksual atau ras tertentu. Apakah benar demikian?

Keserupaan dengan FLU Burung

Di pertengahan tahun 1990-an, para ahli biologi berhasil mengidentifikasi setidaknya 8 subtipe (strain) HIV yang menginfeksi berbagai orang di seluruh dunia. Telah terbukti, strain B adalah strain pra dominan yang menginfeksi gay di AS. Strain HIV ini lebih cenderung menginfeksi jaringan rektum, itu sebabnya para gay yang cenderung menderita AIDS dibandingkan non-gay

Sebaliknya, Strain HIV yang umum dijumpai di Afrika cenderung menginfeksi vagina dan sel serviks (leher rahim), sebagaimana kulup penis pria. Itu sebabnya, di Afrika, HIV cenderung berjangkit pada kalangan heteroseksual.

Para pakar AIDS telah memeberitahukan bahawa AIDS Amerika berasal dari Afrika, padahal Strain HIV yang umum dijumpai di kalangan pria gay nyaris tak pernah terlihat di Afrika! Bagaimana bisa demikian? Apakah sebagian Strain HIV direkayasa agar mudah beradaptasi ke sel yang cenderung menginfeksi kelamin gay?

Telah diketahui, pria ilmuwan SCVP (Special Virus Cancer Program) mampu mengadaptasi retrovirus tertentu agar menginfeksi jenis sel tertentu. Tak kurang sejak tahun 1970, para ilmuwan perang biologis telah belajar mendesain agen-agen (khususnya virus) tertentu yang bisa menginfeksi dan menyerang sel kelompok rasial “tertentu”. Setidaknya tahun 1997, Stephen O’Brien dan Michael Dean dari Laboratorium Keanekaragaman Genom di National Cancer Institute menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang kulit putih memiliki gen resisten-AIDS, sementara orang kulit hitam Afrika tidak memiliki gen semacam itu sama sekali. Kelihatannya, AIDS semakin merupakan “virus buatan manusia yang menyerang ras tertentu” dibandingkan peristiwa alamiah.

Berkat bantuan media Amerika, virus ini menyebar ke jutaan orang tertentu di seluruh dunia sebelum segelintir orang mulai waspada akan kejahatan di balik penciptaan virus ini. Di tahun 1981, pejabat kesehatan memastikan “masyarakat umum” bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. “AIDS adalah penyakit gay” adalah jargon yang sering dikumandangkan media.

Setidaknya tahun 1987, Robert Gallo memberitahu reporter Playboy, David Black, “Saya pribadi belum pernah menemukan satu kasus pun (di Amerika) dimana pria terkena virus (AIDS) dari seorang wanita melalui hubungan intim heteroseksual .” Gallo melanjutkan, “AIDS tak akan menjadi bahaya yang tak bisa teratasi bagi masyarakat umum.” Apakah ini sekedar spekulasi ataukah Gallo mengetahui sesuatu yang tidak ia ceritakan?


VIVAlife - Infertilitas pada pria merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan solusi segera mungkin, dan tidak bisa disepelekan. Anda mungkin tidak tahu jika gaya hidup dan beberapa kebiasaan tertentu bisa membuat seorang pria menderita infertilitas.

Masalah medis, lingkungan dan kesehatan merupakan pemicu dasar infertilitas pada pria. Jika Anda berpikir bahwa gaya hidup dan kesehatan tidak berdampak pada kesuburan, maka Anda salah.

Seperti pemakaian gadget, laptop yang terlalu panas digunakan dan berada di pangkuan, dapat memicu infertilitas pada seorang pria. Berikut ini adalah lima gaya hidup pemicu infertilitas pada pria, seperti yang ditulis Boldsky.

Merokok
Ini adalah salah satu kebiasaan buruk yang bisa menyebabkan kemandulan pada pria. Nikotin dan tembakau adalah dua zat yang dapat merusak dan mengurangi jumlah sperma.

Kelebihan Berat badan

Berat badan juga perlu menjadi perhatian utama. Tak hanya berakibat buruk pada kesehatan secara keseluruhan, berat badan berlebih dapat memengaruhi kesuburan juga. Obesitas memicu perubahan hormon yang tidak normal sehingga menyebabkan infertilitas.

Mandi air panas

Mandi air panas memang dapat menenangkan dan santai, namun air panas  juga dapat merusak sperma, yang berujung pada kemandulan pada pria.

Kantungi ponsel

Pria cenderung menyimpan ponsel di saku celana mereka. Radiasi ponsel mempengaruhi testis dan ini secara bertahap dapat menyebabkan disfungsi ereksi dan infertilitas.

Bercelana ketat

Celana ketat dapat menjadi terlalu panas di alat kelamin. Dan ini dapat mempengaruhi jumlah sperma yang mengakibatkan infertilitas pada pria.
 
Blog Info